Senin, 25 Juni 2012

Agar Masalah Terasa Lebih Ringan (Jadilah Danau)

0 komentar
 

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.
Readmore...
Jumat, 27 Januari 2012

Agar Anda Jatuh Cinta Pada Bisnis Internet

0 komentar
 

Agar Anda Jatuh Cinta Pada Bisnis Internet
Oleh : Mas Joko Susilo

Adakah yang belum jatuh cinta pada bisnis internet? Saya sendiri SANGAT CINTA dengan bisnis internet ini. Banyak di antara rekan-rekan semua di sini, saya yakin juga demikian.
Bagaimana tidak? Cukup di depan komputer yang terakses internet, dan wuzz… wuzz… uang pun mengalir tanpa henti-henti… Bisnis ini bisa dijalankan sambil bercengkrama dengan keluarga di rumah; tanpa harus khawatir terjebak macet, atau kehujanan dan kepanasan di jalanan.
Namun, barangkali ada di antara rekan-rekan semua, sampai saat ini ada yang belum bisa jatuh cinta pada bisnis internet ini. Mengapa?
Kalau tanya kenapa, saya rasa, rekan-rekan sendiri yang lebih mengerti apa yang alasannya. Namun kalau anda tanya bagaimana caranya jatuh cinta pada bisnis internet, semoga tips-tips berikut ini bisa membantu anda untuk jatuh cinta pada bisnis internet.
  1. Buka diri anda. Adakah yang merasa terlalu muda atau terlampau muda untuk jatuh cinta pada bisnis internet? Cobalah buka diri anda. jatuh cinta pada bisnis internet bisa terjadi pada siapa saja. Tidak peduli usia dan boleh dari kalangan mana saja. Coba buka hati dan diri anda terhadap  bisnis internet. Tidak pernah ada kata terlambat untuk jatuh hati padanya. Description: :)
  2. Temukan apa yang paling anda suka dari bisnis internet ini. Beberapa kelebihan bisnis internet ini sudah saya kemukakan di awal tadi. Mulai dari terjamin terhindar dari kemacetan-kepanasan-kehujanan, sampai nikmatnya saat bisnis anda mulai menghasilkan uang dan banyak kelebihan lain yang tak bisa ditandingi oleh bisnis offline.
  3. Temukan apa keasyikan utama anda dalam berbisnis internet ini. Pasti… pelan atau cepat, anda akan mulai jatuh cinta pada bisnis internet.
  4. Rawat bisnis internet anda setiap hari. Sediakan waktu untuk lebih banyak “bercengkrama” dengan bisnis internet ini. Selami dan temukan apa yang menarik dari bisnis ini. Dengan menyisihkan waktu yang cukup untuk mengenali dan mempelajari bisnis internet ini, lambat laun anda akan kecantol dengan bisnis ini dan saya jamin akhirnya tak mampu berpaling dari bisnis ini. Anda akan semakin larut dan senang meng-ACTION-kannya setiap hari.
  5. Dengan merawat tiap hari, hubungan anda dengan bisnis anda ini akan semakin erat. Periksa bagaimana perkembangan bisnis anda hari ini. Lakukan ini dengan penuh cinta setiap hari, niscaya bisnis internet anda akan membalas cinta anda dengan hasil yang sepadan.
  6. Berani berkorban. Mencintai berarti berani berkorban. Pelihara tiap hari untuk membuat bisnis internet anda ini tumbuh sehat. Lakukan investasi untuk bisnis yang anda sayangi ini supaya berkembang lebih pesat.
  7. Percayailah bisnis internet. Mencintai berarti anda menaruh kepercayaan padanya. Pada bisnis internet, anda tautkan harapan bahwa bisnis ini akan mengubah hidup anda jauh lebih baik. Hidupkan kepercayaan itu dalam hati dan jiwa anda setiap hari. Yakinkan dan ACTION-kan!
Kalau anda sudah jatuh cinta dengan bisnis internet, jangan heran kalau kemudian anda takkan peduli sekalipun harus sehari semalam ACTION. Justru dengan senang hati, anda akan melakukannya.
Sudahkah anda jatuh cinta dengan bisnis internet?

Readmore...
Sabtu, 17 September 2011
0 komentar
 
RAHASIA WEBSITE PEMULA (RWP)
Satu-satunya Bisnis Online Pemula yg Memiliki Metode Belajar Online dan Offline.
Memiliki Cabang di beberapa kota Indonesia dg 3.500 member lebih"

"7 Rahasia Website Pemula
yg Menghasilkan Duit Bagi Para Pemula Yang Ngaku Gaptek"
Klik Link di bawah ini & Temukan rahasianya..!
Readmore...
Minggu, 14 Agustus 2011

Ngaji Tentang Hisab dan Rukyat

0 komentar
 

Majlis Tarjih PDM Gunungkidul D.I. Yogyakarta

TINJAUAN

HISAB

RUKYAT
Artinya
MENGHITUNG
MELIHAT
Caranya
MENGETAHUI PEREDARAN BULAN MENGELILINGI BUMI
MELIHAT SAAT TERBITNYA BULAN (sabit/hilal) pada saat terbenamnya matahari
Dasar hukumnya
1.  Dasar pokok: Al Qur’an : Taubat (9) : 36; An’am (6) : 96;  A’raf (7) : 54; Yunus (10 ) :5;  Ra’du (13) ::2;  Ibrahim (14) :33;  Haj (22) :18;  Luqman (31)  :29 ;  Fathir 35) :13; Yasin 36) :38-40;
2. Dasar dukungan : Hadits dari Abu Huroiroh riwayat AlBukhari  sabda Nabi : “puasalah karena melihat bulan dan berharirayalah karena melihat bulan”. Hadits ini jika digabung dengan hadits dari Sa’id bin Umar riwayat Al Bukhari, sabda Nabi: “kami adalah masyarakat yang umiy (buta huruf/angka), maka umur bulan hanyalah saya kira’kira 29 hari atau 30 hari” .
3.   Maka perintah melihat secara langsung , karena TIDAK DAPAT baca–tulis/hitung.
    4.   Mafhum mukhalafah hadits diatas , kalau bisa baca –tulis/hitung cukup dgn hisab yaitu menghitung peredaran bulan, berdasar  ayat-ayat Alqur’an (terutama Yasin: 38 dan Yunus: 5) dan hadits (Said bin Umar riwayat Al bukhari )
1.     dasar pokok : Hadits Dari Abu Huroiroh riwayat Al Bukhari, sabda Nabi : “puasalah karena melihat bulan dan berharirayalah karena melihat bulan, jika terhalang sesuatu maka genapkanlah umur sya’ban 30 hari”.
2.     Secara matan/textual hadits ini jelas perintahnya, yakni melihat bulan secara langsung.
Disebut juga
Rukyat bil ‘ilmi (melihat hilal dengan ilmu hisab)
Rukyat bil fi’li  (melihat hilal dengan mata kepala)
Alatnya
1.     Ilmu Astronomi (falak)
2.     Ilmu Geografi
3.     Alat tehnologi canggih
1.     Tempat yang tinggi
2.    melihat  langsung bulan sabit jaraknya dari bumi 406 000 Km
Pendapat
1.     ada 3 macam perbedaan pendapat :
1.     ijtima’ qoblal ghurub (hilal dihitung telah wujud ketika ijtima’ terjadi sebelum  matahari terbenam)
2.     imkanur rukyah (hilal dimungkinkan terlihat pada saat ghurub/trbenam)
3.     wujudul hilal (hilal diperhitungkan lahir pada saat ghurub/terbenam)
Ada paling tidak 5 beda pendapat cara/penentuan hasil  melihat hilal, a.l.:
1.     rukyat harus tanpa alat
2.  rukyat boleh dengan alat (a.l. teleskop)
3.     bulan sabit harus terlihat paling tidak separuh
4.   bulan sabit sudah terlihat walau belum separuhnya
5.     bulan sabit harus terlihat utuh
Hasil
Obyektif - rasional, karena :
1. bulan dan bumi  menurut TAQDIR beredar dengan TETAP sejak penciptaan hingga akhir zaman, maka dapat dihitung dengan akurat
2. Dukungan tehnologi canggih (computer/satelit). Contoh hasil hisab: ditemukan arloji , bisa mendarat ke bulan, peluru kendali, jadwal shalat abadi, jam istiwa’. Kalender, terjadinya gerhana
Subyektif – individual , karena :
1.     kemungkinan besar terhalang oleh halangan tetap (usia tua, mata rabun/plus/min) dan terhalang sesaat polusi (mendung, asap, sinar terang,  kabut, dll)
2.     karena individual bagi yang merasa dapat melihat hilal maka perlu disumpah
    Melakukannya  
       1. Perlu waktu untuk mempeljarinya
            2. perlu alat yang canggih
1.  perlu pengalaman 5 s.d. 15 tahun untuk dapat melihat hilal
2.  Drs Oman Fathurohman SW, Mag (Majlis Tarjih PP Muhammadiyah)  baru dapat berhasil melihat hilal setelah 4 kali (2003)
3. Drs. Jalaluddin, SH (Tim Rukyat Pengadilan Agama Gunungkidul) sudah  14 kali belum pernah berhasil melihat hilal  s.d. tahun 2003.
4.     Untuk tahun 2006 tugas rukyat beralih ke KUA.
Kesimpulan –1
   Untuk melakukan hisab harus didukung rukyat. Untuk mengetahui ketepatan hisab, dibuktikan dengan rukyat.
1.     Untuk melaksanakan rukyat, harus didahului hisab. Misalnya untuk melakukan rukyat awal ramadhan mesti pada tgl 29 Sya’ban, rukyat idul fithri mesti tgl 29 Ramadhan . Untuk rukyat idul adlha mesti tanggal 29 Dzulqo’dah. Cara mengetahui kapan tgl 29 itu , jelas dengan hisab
2.     Jika gagal rukyat . Maka digunakan hisab yaitu istikmal (menggenapkan umur) Sya’ban   menjadi 30 hari
 Kesimpulan - 2
1.   dengan hisab saja belum menyelesaikan masalah
2.   dengan rukyat saja pun belum menyelesaikan masalah
3.   hisab dan rukyat saling mendukung
bulan mengitari bumi dengan waktu :  29 heri 12 jam 44 menit 2,5 detik

Readmore...
Jumat, 12 Agustus 2011

Tuntunan Shalat Hari Raya Menurut Sunnah

0 komentar
 

1
Dituntunkan sholat Id mulai tahun pertama hijrah

2
Karena Nabi tidak pernah meninggalkan dan selalu melakukannya, maka disebut sunnat muakkad

3
Tempat sholat Id di lapangan
Rasulullah SAW rumahnya bersatu tembok dengan masjid Nabawi, dan setiap shalat sunnat selalu di dalam rumah beliau. Namun shalat id selalu dilakukan Nabi di lapangan yang luas di depan masjid Nabawi kira kira setengah kilo meter.Karena lapangan  itu selalu digunakan untuk shalad Id, orang menamainya Al Mushalla.


Alasan memilih shalat Id di lapangan?

Pertama, Ya, karena bertujuan untuk syi’ar Islam. Biar musuh melihat bahwa walau Islam selalu diperangi, dirongrong namun setiap tahun shaf shalat selalu bertambah. Oleh sebab itu pula jalan berangkat dengan jalan pulang berbeda agar oarang yang belum masuk Islam tertarik dengan semakin bertambahnya ummat Islam
Kedua, Nabi dan Ummat Islam tidak shalat diatas tanah lapangan tapi di aatas tikar atau sajadah
Ketiga, kalau toh ada kotorangn dan masih terlihat kotoran itu pasti para sahabat sudah mempersiapkan diri untuk membersihkan karena akan digunakan shalat Id. Dan kalau kotoran itu sudah menyatu tanah, maka tanah itu mensucikan kotoran itu. Kita lihat bahwa kotoran binatang menjadi rabuk / pupuk , sehingga tumbuh rumput , padi bayem tum,buh subur
Keempat, Rasulullah bersabda,  ARDLULLOOH MUTHOHHARUUN, bumi Tuhan itu suci. Suci mana tanah lapang yang sudah dibersihkan dari kotoran bintang dibanding masjid yang penuh kotoran cecak dan kotoran burung
Kelima, di masjid tidak bisa dihadiri wanita haid. Sedang Nabi menganjurkan wanita haid pun disunnahkan menghadiri pelaksanaan shalat ID


Imam Syafi’i berpendapat shalat Id itu utama di masjid

Anda keliru berkata seperti itu , pendapat Imam Syafi’I bahwa shalat Id utama di masjid, kalau masjid itu luas dan dapat menampung jamaah. Artinya kalau masjid masjid kecil di kampung, jika digunakan untik shalat Id meluber sampai halaman, maka dapat diambil kesimpulan :
Pertama, kalau meluber di halaman ya sama saja shalat di tanah lapang, karena halaman masjid biasanya banyak kotoran ayam, bebek, dll. Jadi keadaannya sama saja dengan lapangan
Kedua, wanita haid tak bisa hadir di masjid itu
Ketiga, sama sekali tak ada syi’ar Islam. Seakan ibadah biasa/sama di hari hari lain, tak ada orang hilir mudik berjalan atau berkendara berbondong bondong menuju menuju tempat salat. Adanya hanyalah orang dari rumah seperti biasanya di hari hari biasa menuju masjid.


kata pernah itu menunjukkan mungkin hanya dilakukan satu kali,  atau berarti jarang sekali melakukan . Berarti lebih sering melakukan di tanah lapang


Ada hadits yang menerangkan, karena hujan, kemudian Nabi shalat Id di masjid


Ya ada, hadits itu dari Abu Huroiroh riwayat Abu Daud, Al Hakim dan Ibnu Majah.

اَنَّهُمْ اَصَابَهُمْ مَطَرٌ فِى يَوْمِ عِيْدٍ فَصَلَّى بِهِمُ النَّبِيُّ  صلعم  صَلاَةُ الْعِيْدِ فِى الْمَسْجِدِ


Artinya: bahwa hujan telah menimpa mereka pada hari raya/Id, maka Nabi dan ummat shalat Id di masjid.

Namun derajat hadits itu dlo’if, karena dalam isnadnya ada seorang rowi yang tak dikenal otobiografinya. Dalam Kitab Talkhish, Al Hafidl menilai hadits tersebut dloif.  Imam Adz Dzahabi menilai hadits mungkar. Imam Bukhori menyatakan semua hadits dloif (apalagi mungkar) tak dapat dijadikan hujjah/dasar hukum dan hadits  dla'if  tak boleh diamalkan.
Kondisi masjid Nabi pada masa Nabi hanyalah tanah lapang terbuka. Yang diberi atap hanyalah tempat Imam. Jadi sama saja dengan tanah lapang. Bahkan luas masjid  sama dengan luas lapangan. Mengapa ketika hujan harus pindah dari lapangan ke masjid, toh sama saja kehujanan.


Shalat Id  menurut sunnah di tanah lapang, penjelasannya :
a.       Shalat di tanah lapang berarti menurut sunnah Rasulullah SAW
b. Nabi adalah Uswah khasanah, contoh/teladan yang baik. Meneladani Nabi adalah lebih baik daripada meneladani pendapat orang lain walau orang tersebut ulama kesohor
c.       Syi’ar Islam amat terlihat sekali
sedang kalau di masjid masjid kecil di kampung, penjelasannya:
a.       belum seperti yang dikehendaki pendapat Imam Syafi’i, karena tidak luas/tidak bisa menampung jamaah. kecuali kalau masjid itu setara dengan tanah lapang seperti di masjid Nabwi Madinah, atau Masjid Al Harom Makkah atau masjid Al Azhar Jakarta
b.  Shalat Id di masjid berarti mengikuti pendapat Imam Syafi’i, yang hidup  170 tahun setelah Nabi wafat (763 H – 820 H).
c.       Syi’ar Islam hampir tak terasa
d.      amat salah jika shalat Id di masjid HANYA berdalil tanah lapang itu penuh dengan kotoran binatang, ini sama saja mengejek Rasulullah SAW yang selalu di tanah lapang
e.  dan kalau berdalil tanah lapang itu penuh kotoran kambing, sama saja kalau shalat di halaman masjid juga banyak kotoran ayam kampung (karena masjid penuh dan shalat MELUBER SD di halaman masjid)
f.   amat salah jika berdalil, seutama utama shalat itu di masjid. Karena tanah lapang penuh kotoran. Ini sekali lagi sebagaimana yang saya terangkan tadi, kita jawab , kita tidak shalat di atas tanah lapang, tapi menggunakan alas/tikar. Sebagaimana kalau shalat di masjid namun tidak menampung jamaah terpaksa menggelar tikar di halaman muka msajid. Ini sma saja keadaannya shalat di tanah lapang

4
Tuntunan shalat Idul Fithri :
a. potong kuku, pangkas rambut (ketiak, kemaluan, cambang, kumis)
b.   tanggal 1 Syawal, pagi hari Mandi besar (termasuk wanita haid)
c.    Memakai wangi-wangian dan berpakaian yang paling bagus
d. Takbir dimulai sesudah shubuh, dilantunkan  sejak berangkat dari rumah menuju tanah lapang
e.  pelaksanaan shalat lebih siang lebih baik karena memberi kesempatan yang masih memberikan zakat fithrah agar tak tertinggal shalat Idnya
f.       makan pagi, karena rasa lelah menggotong  zakat fithrah dan dibawa ke rumah orang yang diberinya
g.      menuju tanah lapang, berjalan kaki (atau berkendara),  sambil bertakbir
h.      jalan berangkat, lain dengan jalan pulang
i.        tanpa adzan dan iqomah, dan tanpa aba aba seperti        ASHOLA-TU QO-IMAH atau ASH SHOLAATU JAAMI'AH
j.        Sholat dua rakaat,
1)      rakaat pertama 7 kali takbir termasuk takbirotul ihram
2)      di sela sela takbir tak ada bacaan apa pun. Nabi tdak menuntunkan membaca SUBKHANALLAH, WAL KHAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH di sela sela takbir
3)      setalah 7 takbir membaca doa iftitah, ta’awaudz, basmalah kemudian al fatikhah dan surat/ayat Alqur’an
4)      rakaat kedua , 5 takbir tidak termasuk takbir intiqol (takbir pergantian gerak dari sujud akan berdiri)
5)      sesudah salam, jamaah harus mendengarkan khutbah dan harus berdoa bersama dengan khotib.  TIDAK dibenarkan memalingkan perhatian khutbah seperti : bercakap cakap, merokok apalagi  terus  beranjak dari duduk untuk pergi
6)      diakhiri dengan  satu khutbah (tidak dua khutbah yang diselingi duduk)
k.      KHUTBAH DIAWALI DENGAN HAMDALAH, TAK ADA TUNTUNAN DIAWALI DENGAN TAKBIR BARU HAMDALAH. APALAGI HARUS TAKBIR 7 ATAU 9 KALI SEBELUM HAMDALAH
l.        selesai mendengarkan khutbah dan berdoa bersama dan dipimpin khotib,
m.    kemudian saling mengucap TAQOBBALALLOOHU MINNAA WA MINKUM (semoga Allah menerima amal ibadah kita), dijawab dengan kata kata yang sama atau cukup menjawab amin. Kalau dijawab TAQOBBAL YAA KARIIM, ini bukan  sunnah
n.      jalan pulang lain dengan jalan yang dilalui ketika berangkat

5
Tuntunan shalat Idul Adlkha (dan rangkaian ibadah sebelum dan sesudahnya) :
a.       MULAI TANGGAL 1 Dzulhijjah tidak potong kuku, tidak pangkas rambut (kepala, ketiak, kemaluan, cambang, kumis) sampai dengan  disembelih qurban
b.      puasa tanggal 9 dzulhijjah
c.       selalu mengumandangkan takbir sejak sholat shubuh tanggal 9 dzulhijjah, hingga malam menjelang sholat Id (dhuhur, ashar, maghrib, isya')
d.      tanggal 10 Dzulhijjah, sejak pagi Mandi besar (termasuk wanita haid)
e.       Memakai wangi-wangian dan berpakaian yang paling bagus
f.       pelaksanaan shalat lebih pagi  lebih baik karena memberi kesempatan segera menyembelih hewan kurban
g.      tidak makan pagi, mengingat Nabi Ibrahim dahulu ketika akan menyembelih Ismail sebagi kurban juga tidak sarapan
h.      menuju tanah lapang, berjalan kaki, berbondong sambil bertakbir
i.        jalan berangkat, lain dengan jalan pulang
j.        tanpa adzan dan iqomah, dan tanpa aba aba seperti  ASHOLA-TU QO-IMAH
k.      sholat dua rakaat,
1)      rakaat pertama 7 kali takbir termsuk takbirotul ihram
2)      di sela sela takbir tak ada bacaan apa pun. Nabi tdak menuntunkan membaca :
SUBKHANALLAH, WAL KHAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH di sela sela takbir
3)      setalah 7 takbir membaca doa iftitah, ta’awaudz, basmalah kemudian al fatikhah dan surat/ayat Alqur’an
4)      rakaat kedua, 5 takbir tidak termasuk takbir intiqol (takbir pergantian gerak dari sujud akan berdiri)
5)      sesudah salam, jamaah harus mendengarkan khutbah dan harus berdoa bersama dengan khotib.  TIDAK dibenarkan memalingkan perhatian khutbah seperti : bercakap cakap, merokok apalagi  terus  beranjak dari duduk untuk pergi
6)      diakhiri dengan  satu khutbah (tidak dua khutbah yang diselingi duduk)
l.        KHUTBAH DIAWALI DENGAN HAMDALAH, TAK ADA TUNTUNAN DIAWALI DENGAN TAKBIR BARU HAMDALAH. APALAGI HARUS TAKBIR 7 ATAU 9 KALI SEBELUM HAMDALAH
m.    selesai mendengarkan khutbah dan berdoa bersama dan dipimpin khotib,
n.      jalan pulang lain dengan jalan yang dilalui ketika berangkat
o.      setelah penyembelihan kurban, barulah boleh potong kuku dan pangkas rambut  (kepala, kemaluan, kumis, cambang)
p.      setiap sehabis sholat 5 waktu bertakbir, diakhiri sesudah sholat Ashar tanggal 13 Dzulhijjah

6
Lafal takbir menurut sunnah :
a.   ALLOOHU AKBAR (3 kali) KABIIROO
Ini berdasar hadits dari Salman riwayat Abdur rozaq
Lafal inilah yang dipilih sebagaian besar khotib untuk sering dibaca di sela sela khutbah. Karena hadits dari Ibnu Majah riwayat Sa’ad (muadzin Nabi) menerangkan Nabi memperbanyak takbir di sela sela khutbah
Ada pun lafal takbir, ALLOOHU AKBAR (3 kali), WA LILLAAHIL HAMD ,yang biasanya untuk tulisan spanduk atau selingan kalimat khutbah, lafal itu   bukan hadits / bukan tuntunan Nabi
b.   ALLOOHU AKBAR (2). LAA ILAAHA ILLALLOOHU, ALLLOOHU AKBAR. ALLOOHU AKBAR WA LILLAAHIL HAMD
Ini berdasar hadits dari Umar dan Ibnu Mas’ud riwayat Jabir
c.    ada pun lafal takbir : ALLOOHU AKBAR (3) LAA ILAAHA ILLALLOOHU, ALLLOOHU AKBAR. ALLOOHU AKBAR WA LILLAAHIL HAMD
ini  bukan hadits. kemungkinan  lafal takbir tersebut adalah dua hadits dari Salman dan Umar serta Ibnu Mas’ud tadi digabung sehinga menjadi lafal seperti itu. Namun siapa nama ulama yang mula mula menggabungkan,  sejak kapan, kami belum menemukan, walau justru lafal ini yang UMUM diamalkan.


Lafal takbir dengan ucapan  ALLOOHU AKBAR KABIIRO WAL KHAMDU LILLAAHI KATSIIRO WA SUB KHAANALLOOHI BUKROTAN WA ASHIILAA dan seterusnya bukan Lafal takbir :

Lafal tersebut BUKAN  lafal takbir hari raya, takbir tersebut diucapkan Nabi ketika Fatkhu Makkah atau penaklukan Kota Mekkkah.

Imam Syafi’I dalam kitabnya Al Umm mengatakan, aku menyukai menambah lafal takbir hari raya dengan lafal tersebut. Hal ini berarti sejak masa Nabi sampai 170 tahun belum ada lafal takbir yang engkau tanyakan itu.  Barulah diamalkan oleh sebagian ummat setelah Imam Syafi'I yang lahir 170 tahun sesudah Nabi wafat baru menuntunkan dan menulis pendapatnya dalam kitab Al Umm tersebut.

Oleh sebab itu para ulama termasuyk Imam Sayid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah tidak mencantumkan LAFAL TAKBIR TERSEBUT pada bab lafal takbir Id .
dan Muhammadiyah tidak mengamalkannya,  cukup melafalkan takbir yang disunnahkan Rasulullah SAW . Karena beliau adalah Uswah Khasanah (Tauladan yang baik). Kalau ada tauladan yang baik mengapa perlu mentauladani tuntunan orang lain)

7
Khutbah Id  satu kali , apa bolehkah  dua kali seperti khutbah jum’at

Imam An Nawawy dalam Kitabnya Al Khulashoh berkata, tak ada suatu dalil pun yang kuat menetapkan bahwa khutbah Id itu dua khutbah. Segala riwayat yang menerangkan bahwa Nabi SAW khutbah dua kali dengan mengadakan perselangan dua khutbah itu dengan duduk, adalah dlo’if Dan tak ada keterangan Nabi memulai khutbah dengan takbir.

Imam Ash Shon’ani berkata, khutbah hari raya itu disyareatkan rukun rukunnya  seperti khutbah jumat. Dalamkhutbah  itu Rasulullah SAW memberi perintah dan nasehat. Tetapi khutbahnya tidak dua kali seperti khutbah jumat karena tak ada keterangan mengenai khutbah Id dua kali. Khutbah dua kali hanyalah qiyas.,Riwayat yang menerangkan adanya khutbah Id  dua kali, dipisahkan dengan duduk adalah riwayat yang dla’if

8
Rasulullah SAW menuntunkan khutbah apa pun dimulai dengan hamdalah, tidak ada hadits yang menerangkan khusus untuk khutbah sholat Id diawali takbir 7 atau 9 sebelum hamdalah

(Majlis Tarjih PDM Gunungkidul D.I. Yogyakarta)


Readmore...