![]() |
Berapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusyuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit kekurangan gizi. Atau betapa mudahnya jutaan – bahkan milyaran – uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak tidak dapat melanjutkan sekolah, ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi, ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit, dan bahkan disaat ribuan umat Islam terpaksa menjual iman dan keyakinan kepada tangan-tangan kaum lain yang “penuh kasih”. Padahal, sebagai mana telah dilukiskan oleh Rasul mulia s.a.w. :
“Perumpaan kaum mukminin dalam hal jalinan kasih-sayang, kecintaan dan kesitikawanan, sema seperti satu tubuh, yang bila salah satu anggotanya mengeluh karena sakit, maka seluruh anggota lainnya menunjukkan simpatinya dengan berjaga semalaman dan menanggung panas karena demam.”
Bahwa kemiskinan dan keterbelakangan adalah tanggung jawab kita bersama ditegaskan berulang kali, baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah, diantaranya sebagai berikut:
1. Menolong dan membela yang lemah, mustadh’afin, adalah tanda-tanda orang yang takwa.
2. Mengabaikan nasib mustadh’afi, acuh tak acuh terhadap mereka, enggan memberikan pertolongan, akan menyebabkan:
a. ia menjadi pendusta agama (QS. Al-Maun (107) : 1 – 3)
b. dan salatnya akan membawa kecelakaan (QS. Al-Maun (107) : 4 – 7)
c. menjerumuskan ke dalam neraka saqar, (QS. Al-Muddatstsir (74) : 42)
d. imannya tidak ada
“tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya” (HR. ath-Thabari & al-Bazzar)
e. ia tidak dihitung sebagai orang islam
“barang siapa tidak mau memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia tidak termasuk kelompok mereka” (HR. al-Hakim & ath-Thabari)
3. Membela nasib mustah’afin merupakan amal utama yang mendapat pahala yang lebih besar dari pada ibadah-ibadah sunnah.
“Barang siapa di waktu pagi berniat untuk membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang muslim, maka baginya ganjaran seperti ganjaran haji yang mabrur. Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia. Seutama utama amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang beriman, melepaskan rasa lapar, membebaskan kesulitan, atau membayarkan utang.” (HR. ath-Thabari)
“Orang yang bekerja keras untuk membantu janda dan orang miskin adalah seperti pejuang di jalan Allah atau seperti orang yang terus menerus shalat malam atau terus menerus puasa” (HR. Imam Muslim).
“Barangsiapa yang berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya pada satu saat di siang hari atau di malam hari, ia berhasil memenuhinya atau tidak berhasil, itu lebih baik baginya dari pada i'tikaf dua bulan” (HR. al-Hakim & ath-Thabari).
“Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari kesusahannya atau menolong orang yang teraniaya, Allah berikan kepadanya 73 ampunan” (HR. Ibnu Hibban).
Tanpa harus menyebutkan nas-nas di ataspun, orang-orang yang mempelajari Islam, membuka al-Qur’a, dan as-Sunnah, akan segera menemukan perhatian yang besar dari ajaran Islam terhadap problem kemiskinan dan keterbelakangan.
Membela fakir miskin adalah melanjutkan tugas Rasulullah saw dalam “membuang beban-beban (penderitaan) dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka, sebagai mana firman Allah:
“(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf (7) : 157)
Kepada istrinya Rasulullah saw berpesan :
“Wahai Aisyah, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab juga dengan engkau pada hari kiamat” (HR. al-Hakim)
Kepada kita semua Rasulullah saw berwasiat:
“Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin” (HR. ad-Daruquthni & Ibnu Hibban)
Kawan mari jangan kita sia-siakan kunci surga yang ada dihadapan kita dengan cara memperhatikan dan menolong orang-orang miskin.
Bahan bacaan:
Al-Qur’an dan Tarjamahnya
Islam Alternatif, karya Jalaludin Rahmat

Subscribe to email feed



